Budiman Scavengers lulusan Unpad

Indra Darmawan (48) mendirikan sekolah di bantaran sungai yang sebagian besar orang tua muridnya bekerja sebagai pemulung. Sekolah di tepi Citarum ini berawal dari keinginan Indra Darmawan, lulusan Universitas Padjajaran Bandung, untuk melestarikan lingkungan.

“Awalnya kami ingin melestarikan lingkungan, melestarikan Sungai Citarum

dan memperkuat masyarakat. Sekarang kami memperkuat pemulung yaitu masyarakat di sini. Setelah mereka mulai menguatkan, kami berpikir seperti anak-anak ini tidak seharusnya ketika orang tuanya memilih” memulung sampah di Sungai Citarum (pemulung), anak-anaknya juga menjadi pemulung,” ujarnya dalam program tokoh.

Profesi pemulung sangat lekat dengan Indra karena terus berbenah selepas lulus kuliah. Saat itu, Indra memilih membersihkan karena merupakan bagian dari upayanya membersihkan Citarum dari sampah.

Dari situlah Indra mengenal rekan-rekan pemulungnya.

Ketika melihat pemulung punya anak, ia berpikir bagaimana caranya agar anak tidak mengikuti jejak orang tuanya yang menjadi pemulung, atau bahkan mengenyam pendidikan yang layak.

Pada tahun 2014 Indra mendirikan Yayasan Bening Saguling. Dua tahun kemudian ia mendirikan Sekolah Alam Tunas Inspirasional. Sekolah ini mengajar siswa dari taman kanak-kanak, tetapi segera juga mengajar siswa sekolah menengah.

Sekolah Indra fokus pada anak-anak kurang mampu

, korban bullying dan pemulung. “Awalnya kami ingin melestarikan lingkungan, melestarikan Sungai Citarum dan memperkuat masyarakat. Sekarang kami memperkuat pemulung, yaitu masyarakat di sini. Setelah mereka mulai memperkuat, kami berpikir seperti anak-anak ini jika orang tuanya “memungut sampah” di Sungai Citarum (pemulung), anak-anaknya juga menjadi pemulung,” ujarnya.

Cukup dengan sampah. Orang tua siswa yang belajar di sekolah alam tidak perlu khawatir untuk membayar biaya pendidikan mereka dengan uang.

“Sekolah membayar cukup untuk sampah. Misalnya, mereka pulang pada hari Sabtu. Dari sana Anda bisa membawa sampah. Ini benar-benar hanya untuk pendidikan bagi mereka. Bahwa kita membesarkan mereka agar tidak menjadi seseorang yang meminta kepada orang tuanya. Tapi mereka menjadi anak-anak yang produktif. Tidak ada anak yang konsumtif,” jelas Indra.

Indra mendapat penghasilan dari perdagangan eceng gondok dan daur ulang sampah plastik yang diolah di sekolah. Selain itu, ada juga pendanaan dari donatur, CSR perusahaan dan donatur swasta.

Indra juga berencana membuka jenjang SMA di sekolah alamnya. Saat ini dia sedang mencari sekolah negeri yang mau bekerja dengannya.

Segala sesuatu yang dia lakukan didasarkan pada keyakinan kepada Allah swt. Indra berharap ke depan murid-muridnya menjadi orang yang berguna bagi orang lain dan tidak menjadi beban masyarakat.

“Dan ada pesan dari saya. Jika nanti sukses, maka harus bisa mengirim orang yang tidak mampu.” Jadi akan ada virus yang baik. Dan itu harus dibangun, tidak bisa dikirim ke sekolah biasa. Harus istimewa, itu saja,” perintahnya.

Baca juga :

nac.co.id
futsalin.id
evitdermaclinic.id
kabarsultengbangkit.id
journal-litbang-rekarta.co.id
jadwalxxi.id
gramatic.id
tementravel.id
cinemags.id
streamingdrama.id
snapcard.id
katakan.id
cpdev.id